Kamis, 15 April 2010

ORGANISASI RUANG

-->Pada dasarnya suatu rumah tinggal merupakan kesatuan yang terpadu dari berbagai ruang dengan fungsi dan sifat yang berbeda-beda. Dalam penyusunan rangkaian ruangan yang memiliki fungsi dan sifat yang berbeda-beda menjadi suatu kesatuan yang terpadu, diperlukan organisasi ruang yang baik.

Menyusun struktur organisasi ruang yang baik dan benar tidak terlepas dari faktor-faktor berikut :

  1. Fungsi dan sifat dasar setiap ruangan
  2. Prinsip penetapan jumlah dan ukuran ruangan
  3. Standar ruangan secara minimal
  4. Teknis penyusunan organisasi ruang

FUNGSI dan SIFAT DASAR RUANGAN
Ruang didalam rumah tinggal dibagi atas tiga kelompok berdasarkan fungsi dan sifat yang sejenis yang selanjutnya disebut area :

  1. Area pemukiman (living area)
  2. Area peristirahatan (sleeping area)
  3. Area pelayanan (service area)

AREA PEMUKIMAN
Area pemukiman merupakan kelompok ruangan yang terdiri dari :

  1. Ruang tamu
  2. Ruang makan
  3. Ruang keluarga/rekreasi
  4. Ruang belajar/ruang kerja

Pada rumah yang besar, setiap ruang dapat dibuat secara terpisah satu per satu menurut fungsi dan sifatnya yang khusus. Tetapi pada rumah yang kecil, satu ruang dapat berfungsi ganda, asalkan kombinasi fungsi ruang tersebut masih merupakan satu kelompok ruang (area) sejenis dan sifat dasar masing-masing ruang tidak terlampau berbeda.

Pemisahan ruang pada suatu area tidak selamanya harus dengan dinding tembok masif. Untuk memisahkan ruang dapat digunakan penyekat ruang yang berbentuk lemari (devider) atau dengan cara pemisahan letak kelompok peralatan (furniture) menurut fungsinya.

Sabtu, 10 April 2010

KETERPENCILAN KAWASAN

-->
Daerah yang terpencil akan mengalami beberapa kesulitan, yaitu

MASALAH KOMUNIKASI
Jika kesulitan komunikasi seperti tidak adanya jaringan telepon, maka diperlukan alat komunikasi lainnya. Kesulitan komunikasi dalam melaksanakan proyek adalah masalah besar sehingga memerlukan biaya tambahan.

MASALAH TRANSPORTASI
Semula material dan tenaga kerja perlu diangkut ke lokasi. Jika rote jalan buruk bisa terjadi keterlambatan pengiriman material; mendatangkan kendaraan berat bisa merusak jembatan sempit sehingga diperlukan biaya perbaikan.

HARGA MATERIAL BERFLUKTUASI
Harga material naik biasanya karena naiknya biaya transportasi seperti karena jarak jauh atau kesulitan transportasi.

SUMBER LISTRIK DAN AIR
Tenaga listrik dan sumber air selalu diperlukan pada saat pelaksanaan konstruksi. Air diperlukan untuk pengceoran beton, membersihkan dan banyak perkerjaan lainnya. Air yang mengandung garam tidak diperkenankan pada persyaratan pekerjaan beton, atau plesteran. Sehingga perlu didatangkan air pada lokasi. Hal ini tentunya akan menambah biaya konstruksi. Demikian juga untuk kebutuhan tenaga listrik. Bila tidak ada sumber listrik, maka perlu disediakan generator listrik.

KETERBATASAN LOKASI
Lokasi yang terkurung umumnya disebabkan karena kemacetan atau sebab lainnya sehingga lokasi tersebut tidak bebas. Hal ini bisa berakibat produktivitas pekerja dan alat rendah. Lebih jauh lagi karena keterbatasan lokasi dapat membatasi pemilihan metoda kerja, jenis alat yang digunakan dan jumlah pekerja yang bisa dikaryakan. Dengan keterbatasan ruang gerak, pada awal proyek perIu kehati-hatian dalam menentukan utilitas agar tetap menghasilkan keuntungan yang maksimum dengan menghasilkan produktivitas kerja yang tetap baik. Keterbatasan ruang gerak dapat menimbulkan masalah logistik. Pengangkutan material tidak dapat dilakukan sekaligus, sehingga setiap jenis material perlu diangkut setiap waktu tertentu. Kondisi ini akan memerlukan biaya tambahan. Seorang estimator perlu memahami masalah-masalah logistik di setiap lokasi. Masalah tersebut dapat terjadi karena jalan masuk terbatas, penimbunan material terbatas, penyimpanan peralatan terbatas, kendaraan trailer tidak dapat digunakan. Semua keterbatasan tersebut menyebabkan pembatasan penggunaan jenis peralatan, pengaruh pada efektivitas manajemen pekerjaan, produktivitas pekerja, pembatasan jumlah pekerja. Hal tersebut dapat menimbulkan penambahan biaya konstruksi.

KETERSEDIAAN TUKANG
Setiap lokasi mempunyai beragam ketersediaan jumlah pekerja yang terampil dan tidak terampil, tergantung pada kondisi ekonomi lokal. Jika di lokasi setempat pekerja yang terampil tidak tersedia maka perlu didatangkan pekerja dari luar lokasi. Mendatangkan tenaga kerja dari satu lokasi ke lokasi lainnya akan memerlukan biaya insentif. Besamya biaya insentif tergantung pada kondisi pasar. Jika mendatangkan tenaga kerja dari luar harus disediakan juga akomodasinya.

CUACA
Kondisi cuaca sangat mempengaruhi hasil kualitas kerja yang nantinya berpengaruh juga pada biaya konstruksi. Sebagai contoh pelaksanaan konstruksi yang dilakukan pada tempat tinggi dengan kecepatan angin kencang, akan mempengaruhi penggunaan keran (crane) dan perIu pengontrolan debu, tambahan perancang sementara untuk menahan dari hempasan angin.

PERTIMBANGAN DESAIN
Lokasi suatu proyek mempunyai beberapa aspek yang harus dipertimbangkan oleh perencana. Sebagai contoh konstruksi bangunan sejarah, seluruh desainnya harus harmonis dengan bangunan sejarah yang ada di lokasi setempat. Pertimbangan penggunaan material dan konfigurasi bangunan perlu disesuaikan dengan kondisi lokal.

Pertimbangan-pertimbangan ini dapat menimbulkan masalah tersendiri. Seorang estimator harus paham apakah ada persyaratan khusus untuk material, apakah tersedia tenaga kerja lokal dengan keahlian yang direncanakan, jika tidak maka perIu didatangkan spesialis.

KERWANAN DAN KEAMANAN LOKASI
Keamanan dan kerawanan di lokasi perIu juga diperhitungkan. Misalnya perIu penjagaan selama 24 jam. Tingkat keamanan akan mempengaruhi tingkat resiko pelaksanaan proyek sehingga kadang kala keamanan setempat perlu dilibatkan.

Minggu, 04 April 2010

SASARAN PROYEK DAN TIGA KENDALA

-->
Selain berbentuk bangunan tiap proyek mempunyai tujuan khusus misalnya, membangun rumah tinggal, jembatan, atau instalasi pabrik. Dapat pula berupa produk hasil kerja penelitian dan pengembangan. Di dalam proses mencapai tujuan tersebut, ada batasan yang harus dipenuhi yaitu besar biaya (anggaran) yang dialokasikan, jadwal, serta mutu yang harus dipenuhi. Ketiga hal tersebut merupakan parameter penting bagi penyelenggara proyek yang sering diasosiasikan sebagai sasaran proyek. Ketiga batasan di atas disebut tiga kendala (triple constraint).

  1. Anggaran, proyek harus diselesaikan dengan biaya yang telah melebihi anggaran. Untuk proyek-proyek yang melibatkan dana dalam jumlah besar dan jadwal pengerjaan bertahun-tahun, anggarannya tidak hanya ditentukan secara total proyek, tetapi dipecah atas komponen-komponennya atau periode tertentu (misalnya, perkuartal) yang jumlahnya disesuaikan dengan keperluan. Dengan demikian, penyelesaian bagian-bagian proyekpun harus memenuhi sasaran anggaran perperiode.
  2. Jadwal, proyek harus dikerjakan sesuai dengan kurun waktu dan tanggal akhir yang telah ditentukan. Bila hasil akhir adalah produk baru, maka penyerahannya tidak boleh melewati batas waktu yang ditentukan.
  3. Mutu, produk atau hasil kegiatan proyek harus memenuhi spesifikasi dan kriteria yang dipersyaratkan. Bila hasil kegiatan proyek tersebut berupa instalasi pabrik, maka kriteria yang harus dipenuhi adalah pabrik harus mampu beroperasi secara memuaskan dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Jadi, memenuhi persyaratan mutu berarti mampu memenuhi tugas yang dimaksudkan atau sering disebut sebagai fit for the intended use.

Ketiga batasan tersebut bersifat tarik menarik. Artinya, jika angin meningkatkan kinerja produk yang telah disepakati dalam kontrak, maka umumnya harus diikuti dengan meningkatkan mutu. Hal ini selanjutnya berakibat pada naiknya biaya sehingga bisa melebihi anggaran. Sebaliknya, bila ingin menekan biaya, maka biasanya harus berkompromi dengan mutu atau jadwal.
Dari segi teknis, ukuran keberhasilan proyek dikaitkan dengan sejauh mana ketiga sasaran tersebut dapat dipenuhi. Pada perkembangan selanjutnya ditambahkan parameter lingkup sehingga parameter di atas menjadi lingkup, biaya, jadwal, dan mutu.

Kamis, 01 April 2010

PEMILIHAN TATA LETAK RUANG

-->
Sebagaimana diketahui, masing-masing ruang memiliki fungsi dan sifat tertentu. Maka untuk memenuhi fungsi dan sifat masing-masing, pemilihan tata letak di atur menurut perioritas kegunaan ruang dengan penyesuaian pada situasi/kondisi yang ada pada persil tanah.

Misalnya, area peristirahatan memerlukan suasana yang tenang dan udara yang paling segar/sejuk. Maka area peristirahatan ditempatkan pada bagian yang paling sejuk dan jauh dari keramaian lalu lintas, sedangkan area pemukiman pada bagian muka rumah yang berhubungan dengan jalan keluar, dan area pelayanan dapat ditempatkan pada perioritas yang terakhir.

Pemilihan tata letak ruangan tidak terlepas dari peraturan dan persyaratan yang berlaku tentang garis sempadan bangunan, serta situasi dan kondisi yang ada pada persil tanah itu sendiri. Misalnya, persil tanah menghadap ke arah barat, maka area peristirahatan ditempatkan pada bagian utara atau selatan untuk mengurangi pengaruh panas matahari. Tetapi persisnya letak di sebelah utara atau selatan tergantung dari situasi/kondisi setempat. Misalnya, pada bagian utara pemandangan lebih menarik dan arus angin mengalir dari utara ke selatan. Maka area peristirahatan sebaiknya ditempatkan pada bagian utara.

SKEMA DENAH RANGKAIAN RUANG
Sketsa pertama merupakan manifestasi dari ide yang timbul karena adanya kebutuhan ruang. Pada sketsa pertama rangkaian ruang masih berupa rangkaian kasar, selanjutnya rangkaian disempurnakan dengan memperbaiki rangkaian yang kurang serasi dan meningkatkan efesiensi hubungan serta kegunaan ruang. Pada tahap ini juga harus sudah mulai difikirkan rencana konstruksi, misalnya dengan memikirkan letak tumpuan kuda-kuda, letak kolom penunjang, lebar bentangan ruangan maksimal yang ekonomis, dan lain-lain.

Dalam proses penyempurnaan sketsa pertama menjadi sketsa akhir yang mantap, sebaiknya dibuat beberapa sketsa tanpa menghapus atau mencoret sketsa pertama. Dengan demikian proses penyempurnaan dapat terekam dengan jelas dan lengkap. Rekaman proses penyempurnaan sketsa ini penting, karena sering terjadi problem (persoalan) pada suatu tahap yang sebenarnya telah terpecahkan pada sketsa sebelumnya.                


 

SHARE

| More

Google+ Badge

Google+ Followers

ENTRI POPULER

ARCHIEVE